Bagi kelompok tertentu, Bulan Maulud dirayakan secara besar-besaran dengan menggelar selamatan akbar seperti membuat dodol, wajik, dan selamatan daging sapi. Tradisi ini sudah mendarah daging dan menjadi suatu keharusan bagi mereka, suku Madura yang tinggal di Kalimantan.
Bahkan, mereka rela banting tulang dan berhutang ke sana-kemari untuk menggelar selamatan dan melestarikan tradisi itu.
Tentu saja, aku sebagai pendatang sangat heran dan marah dengan pola pikir mereka yang sangat ritualistis. Mereka hanya menjiplak tanpa memahami makna yang ada di dalamnya. Sedih? Iya, karena pembantuku salah satu penganut aliran itu. Bayangkan, dia adalah janda beranak dua. Dia rela gajinya bulan ini diserahkan ke ibunya untuk menggelar tradisi selamatan itu. Bahkan, dia mau gaji dibayar dimuka karena uang yang dimiliki ibunya masih kurang.
Kenapa, di jaman yang serba sulit ini masih ada orang-orang yang berpikiran picik, ritualistis, dan tidak realistis. Aku pun merasakan apa yang dialami pembantuku. Mertuaku sendiri menegurku karena aku tidak melakukan ritual selamatan di bulan Maulud.
Aku pun nggak peduli mau dikatakan nentang mertua, suami ataupun pelit, yang jelas aku menjelaskan sesuai dnegan logikaku. Sepengetahuanku, tidak ada yang mengharuskan untuk melakukan selamatan setiap bulan bahkan setiap malam jumat. Yang aku tahu, selamatan merupakan ungkapan syukur atau permintaan hajatan bukan ritual semata. Dan menu nya pun tidak ada paksaan atau sesuai dengan kemampuan.
Sampai kapan, mereka terjebak dengan pola pemikiran seperti ini. Padahal, untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan. Mereka hanya malu jika jadi bahan omongan gara-gara tidak menggelar acara selamatan.
Oalah.....melestarikan tradisi kok demi gengsi sampai-sampai menyiksa diri sendiri.....