Pagi itu, seperti biasa aku ngantar si kecil sekolah. Dan seperti biasa juga dia ogah untuk berbaris dan senam bareng teman-temannya. Sengaja aku diamkan sekedar ingin tahu apa yang akan dilakukan gurunya untuk membujuk anakku.
Ternyata tidak ada usaha, tidak masalah bagiku namanya juga anak-anak masih ingin bermain dan aku tidak ingin mengekang kebebasannya bermain dengan segala aturan. Aku juga tidak peduli kalau si kecil dibilang tidak sesuai dengan indicator yang ada di rapor. Buatku semua anak istimewa, unik, dan punya potensi sendiri.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan ulah seorang ibu yang menyeret anaknya yang tidak lain temen fahri hanya gara-gara tidak mau baris. Hah??!! Dalam hati kubilang, Kenapa Nggak Ibunya saja yang sekolah? Kenapa sih mereka tidak sadar, pendidikan anak usia dini bukanlah pendidikan militer tetapi pendidikan yang merangsang perkembangan mereka. Ya perkembangan motorik, social, dan perkembangan otaknya.
Emang kalau mereka mau berbaris rapi bisa jamin bakal sukses ke depan? Yang ada itu sih hanya demi gengsi sang ibu di mata teman-temannya. (cape deh…). Tidak hanya itu, masih banyak guru-guru prasekolah yang menilai siswanya hanya dari unsur kepatuhan dan selesainya tugas yang diberikan, yang ada hanya anak yang baik dan anak yang tidak baik. Sangat jarang ada guru yang mau melihat potensi dibalik semua itu.
Apa mereka tidak pernah menjadi anak kecil? Haruskah masa kecil anak-anak dirampas oleh gengsi orangtua?
Seperti inikah wajah pendidikan anak usia dini? PAUD seringkali disalah sartikan oleh orangtua dan tragisnya oleh guru sendiri.

No comments:
Post a Comment